bimaecopower.com

Dari Bencana Sumatera, Kita Belajar Soal Ketangguhan Listrik.

Dari Bencana Sumatera, Kita Belajar Soal Ketangguhan Listrik

Bencana besar yang melanda Sumatra beberapa waktu lalu kembali mengingatkan kita pada satu hal yang sering dianggap sepele yaitu ketangguhan listrik. Ketika banjir datang dan tanah bergerak, yang pertama kita rasakan bukan hanya air dan lumpur. Tapi gelap. Lampu padam. Dan bersama itu, banyak hal ikut berhenti. Di saat seperti itu, kita baru sadar: listrik bukan sekadar soal kenyamanan. Ia adalah napas kehidupan modern. Saat listrik padam, rumah tidak hanya kehilangan cahaya. Rumah sakit ikut cemas. Alat medis harus dijaga agar tetap hidup. Pompa air berhenti. Sinyal komunikasi melemah. Semua serba darurat.

Saya lalu teringat satu hal sederhana. Sistem listrik kita ini sebenarnya jauh-jauh semua. Pembangkitnya jauh. Gardu induknya jauh. Kabel transmisinya panjang sekali. Selama cuaca bersahabat, sistem ini terasa hebat. Efisien. Andal. Tapi begitu alam mulai “marah dan bergerak”, jarak itu berubah menjadi masalah. Satu gardu terendam banjir. Satu menara transmisi roboh. Jutaan orang langsung ikut gelap. Bukan karena listrik tidak ada.Tapi karena tidak sampai.Dunia juga sedang tidak benar-benar tenang.Ketegangan geopolitik meningkat. Konflik muncul di banyak tempat. Dalam perang modern, yang diserang pertama sering kali bukan pasukan. Melainkan infrastruktur. Listrik. Air. Komunikasi. Tidak perlu serangan besar. Cukup satu titik penting lumpuh. Dan kita tahu, listrik adalah sasaran yang paling sensitif.

Di tengah semua itu, ada perubahan yang sering luput kita sadari.Teknologi diam-diam berjalan. Panel surya atap kini tidak lagi semahal dulu. Baterai juga makin terjangkau. Tidak berisik. Tidak perlu bahan bakar. Tidak ada mesin berputar. Yang berputar hanya matahari. Dan itu gratis dari alam. Yang menarik, sistem seperti ini justru tetap hidup saat jaringan besar mati.

Saya tidak sedang mengajak orang meninggalkan sistem nasional. Bukan itu. Justru sebaliknya. Bayangkan jika rumah sakit memiliki persediaan listrik dari atapnya sendiri. Bayangkan jika sekolah dan fasilitas publik tetap menyala saat bencana. Bayangkan jika sebagian rumah warga tidak ikut gelap. Negara tidak melemah. Negara justru lebih kuat. Karena ketangguhan tidak ditumpukan hanya pada satu sistem besar

Selama ini kita terbiasa menjadi konsumen.Tinggal menyalakan sakelar. Dan berharap semuanya baik-baik saja. Mungkin sudah waktunya cara pandang itu diubah sedikit. Pelan-pelan. Bukan untuk mengganti sistem nasional. Tetapi untuk menopangnya.

Dari bawah.
Dari rumah.
Dari komunitas.

Kemandirian listrik bukan gaya hidup mewah. Ia adalah kesiapan. Kita tentu tidak berharap bencana. Kita juga tidak berharap konflik. Namun bersiap bukanlah tanda takut. Itu tanda waras. Karena dari bencana di Sumatra, kita belajar satu hal penting: ketangguhan listrik bukan hanya soal pembangkit besar dan jaringan panjang. Ia juga soal kesiapan kita sendiri, saat lampu padam, dan kita berharap masih ada yang tetap menyala.

Ditulis oleh Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan. Ketua Dewan Pakar Masebi (Masyarakat Sistem Energi Berkelanjutan Indonesia) dan Praktisi